Tari Bedhaya Ketawang adalah sebuah tari yang amat disakralkan dan hanya digelar dalam periode tertentu. Tari Bedhaya Ketawangberasal dari Surakarta atau yang biasa disebut Solo. Dahulu tari Bedhaya Ketawang Keraton Surakarta ini hanya diperagakan oleh tujuh orang wanita saja. Kini, karena dianggap tarian ini merupakan tarian sakral yang sangat istimewa maka diperagakan oleh sembilan penari.

Dari kesembilan penari yang beraksi, 8 penari di peragakan oleh putri-putri dari kerabat dan orang-orang yang masih memiliki hubungan dengan keraton. Konon di dalam tarian tersebut, seorang lagi dilakoni oleh sang Ratu Nyai Roro Kidul yang ikut menari sebagai tanda penghormatan kepada raja-raja penerus dinasti Mataram.

Kesakralan Tari Bedhaya Ketawang-2

Gerak tarian  tradisi Keraton Surakarta Hadiningrat terdiri dari berbagai ragam. Dilihat dari fungsinya, tarian itu bisa dibagi dalam 3 macam. Yaitu pertama, tari yang punya sifat magis religius, kedua sebagai tari yang menggambarkan peperangan seperti Supit Urang (Capit Udang)  dan Garuda Nglayang (Burung Garuda terbang), dan yang ketiga sebagai tari yang mengandung cerita (drama).

Menurut Sinuhun Paku Buwono X menggambarkan lambang cinta Kanjeng Ratu Kidul pada Panembahan Senopati, Segara gerak melambangkan bujuk rayu, cumbu dengan penuh keanggunan. Kanjeng Ratu Kidul tetap memohon agar Sinuhun ikut bersamanya menetap di dasar samudra kemudian bersinggasana di Sakadhomas bale kencana (Singgasana yang dititipkan oleh Prabu Rama Wijaya di dasar lautan) dan terjadilah perjanjian atau sumpah yang sangat sakral antara Kanjeng Ratu Kidul dan raja-raja penerusnya.

Masing-masing tari tercipta karena ada sejarahnya yang dipengaruhi oleh suasana saat itu. Berbagai macam jenis tari yang diciptakan oleh pengramu keraton bukan asal buat, melainkan dipadu dengan masukan dari kalangan lelembut yang punya hubungan baik dengan keluarga keraton. Sehingga ada muatan mistis dan gaib yang sangat kuat.

Satu sumber menyebutkan tari yang sering disebut dengan Bedhoyo Ketawang ini diciptakan oleh penembahan Sanapati-Raja Mataram pertama sewaktu bersemadi di Pantai Selatan. Menurut cerita, dalam semedinya ia bertemu dengan Kanjeng Ratu Roro Kidul yang sedang menari. Selanjutnya, Kanjeng Ratu mengajarkannya pada penguasa Mataram ini.

Apa yang membuat tari Bedhaya Ketawang menjadi sakral?

Dalam persiapan pementasan tari Bedhaya Ketawang, para penari harus mengikuti beberapa aturan dan upacara. Persiapan ini persis seperti jika seseorang akan menikah di keesokan harinya. Malam sebelum pertunjukan, para penari harus tidur di Panti Satria, daerah yang paling suci di istana di mana semua peninggalan spiritual disimpan.

Latihan untuk tarian ini hanya diadakan setiap Selasa Kliwon. sekali dalam setiap 35 hari, dan biasanya pelatihan semakin sering mulai 10 hari sebelum pertunjukan.

Tarian Bedhaya Ketawang besar hanya di lakukan setiap 8 tahun sekali sedang tarian Bedhaya Ketawang kecil dilakukan pada saat penobatan Raja atau Sultan. Pada upacara pernikahan biasanya ditambah simbol-simbol yang sesuai dengan maksud dan tujuan Bedhaya Ketawang.

(Berbagai Sumber)