Jawa Tengah menyimpan banyak pesona wisata yang unik dan menarik, salah satunya adalah dataran tinggi Dieng, yang termasuk dalam 10 tujuan wisata favorit di Pulau Jawa. Terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, dataran tinggi Dieng berada di sisi barat Gunung Sindoro dan Sumbing dan menjadi salah satu kawasan vulkanik yang aktif dengan keberadaan beberapa kepundan kawah.

Dengan ketinggian rata – rata 2000 meter di atas permukaan laut, Dieng memiliki cuaca khas dataran tinggi dengan suhu sejuk hingga dingin. Ada beberapa atraksi wisata menarik seperti kompleks candi, kawah vulkanik serta acara tahunan Festival Budaya Dieng yang salah satu acaranya adalah ruwatan bersama untuk anak – anak berambut gimbal. Anak gimbal Dieng menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi kawasan wisata ini, mereka menjadi salah satu ikon dataran tinggi Dieng dengan keunikan penampilan serta cerita rakyat dan kepercayaan yang menyertainya.

Fenomena Anak Gimbal Dieng

Rambut gimbal pada anak – anak tertentu yang lahir di daerah dataran tinggi Dieng diyakini tidak dipengaruhi oleh faktor keturunan atau genetik, anak – anak berambut gimbal muncul secara acak namun biasanya disertai dengan satu kesamaan, yaitu anak – anak yang kemudian berambut gimbal mengalami demam tinggi, kejang dan mengingau yang menandai kemunculan rambut terpilin gimbal pada anak – anak tersebut.

Kebanyakan anak berambut gimbal memiliki kepribadian yang khas dan mirip, hampir semua anak gimbal memiliki perilaku yang lebih aktif, keras kepala dan cenderung nakal serta banyak menyendiri. Masyarakat setempat percaya bahwa anak berambut gimbal memiliki teman makhluk gaib yang selalu menyertai mereka sehingga anak gimbal suka menyendiri guna bercengkerama dengan teman gaib mereka. Rambut gimbal dipercaya dapat memberi bencana bagi anak dan keluarga jika dibiarkan hingga dewasa, oleh karena itu ada ritual pemotongan rambut gimbal yang disebut dengan ruwatan.

Upacara Memotong Rambut Anak Gimbal di Dieng

Upacara-Ruwatan-Anak-Gimbal-Dieng-1

Anak berambut gimbal dipercaya membawa keberuntungan atau berkah, namun jika dibiarkan tuumbuh dewasa dengan tetap berambut gimbal maka mereka juga dipercaya dapat mendatangkan musibah atau bencana bagi seluruh keluarga. Oleh karena itu; dilakukan ritual pemotongan rambut gimbal atau ruwatan. Bagi keluarga yang tidak mampu menyelenggarakan prosesi atau ritual ruwatan sendiri biasanya dilakukan ruwatan massal di bulan Sura dalam kalender Jawa.

Prosesi ruwatan massal para anak gimbal ini menjadi salah satu daya tarik wisata di dataran tinggi Dieng. Ruwatan massal dilakukan di kompleks Candi Arjuna dengan prosesi memandikan anak gimbal dengan air dari 7 mata air serta diarak untuk dilempari beras kuning dan koin. Anak gimbal yang diruwat mengenakan ikat kepala putih dari kain mori yang biasanya digunakan untuk membungkus jenazah. Sebelum rambut mereka dipotong; anak – anak gimbal ini memiliki kesempatan untuk meminta satu permintaan yang harus dikabulkan.