Di Sumatera Barat, tersembunyi surga dunia yang telah menarik banyak mata. Walaupun diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk berkunjung karena harus menyewa kapal motor atau pesawat perintis, uang yang dikeluarkan sepadan dengan kepuasan yang didapatkan oleh para wisatawan.

Surga dunia tersebut adalah Kepulauan Mentawai dengan empat pulau utamanya yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Akses ke pulau terbesar yaitu Siberut mengandalkan kapal motor dengan pelayaran reguler 2 kali dalam seminggu dengan kota Padang. Sedangkan untuk akses ke Pulau Sipora bisa dengan menyewa pesawat kecil.

Surga Peselancar

Nama Kepulauan Mentawai sebagai surga peselancar telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Terbentang di lepas pantai Sumatera Barat, Kepulauan Mentawai yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia memiliki pantai-pantai landai dengan ombak yang menakjubkan untuk berselancar. Beragam jenis ombak disertai dengan gulungan ombak ekstrim menjadikan Kepulauan Mentawai tempat yang dituju para peselancar dunia untuk menguji kemampuan mereka.

Titik selancar pada kawasan ini berjumlah lebih dari 400 titik. Dengan beragam ombak yang menantang, kepulauan Mentawai tidak hanya menjadi tujuan wisata tetapi juga sering digunakan sebagai lokasi kompetisi berselancar. Berbagai kompetisi selancar bertaraf internasional juga sering diadakan di daerah ini yang tentunya juga menarik banyak wisatawan untuk melihat.

Surga Petualang

Keindahan alam dan budaya yang dimilliki oleh Kepulauan Mentawai menjadikan tempat ini surga bagi para petualang. Kepulauan yang ditinggali oleh Suku Mentawai ini sangat dipertahankan keaslian alam dan juga budayanya.

Petualangan dimulai dengan menjelajahi hutan tropis yang masih asli. Pemandangan yang menakjubkan, keragaman flora dan fauna, lintasan yang menantang, dan udara yang segar bukan hanya berkesan tetapi juga membuat badan sehat.

Petualangan budaya juga menjadi pilihan karena Kepulauan Mentawai adalah daerah yang sangat minim senturan modernisasi. Kehidupan masyarakatnya masih sangat lekat dengan budaya neolitikum. Peradaban kuno ini belum mengenal pengerjaan logam dan bercocok tanam.

Untuk mengunjungi beberapa desa tertentu seperti Desa Madobak, Desa Ungai, dan Desa Matotonan, para wisatawan dapat menikmati petualangan melalui jalur sungai dan jalan setapak. Perjalanan tersebut memerlukan waktu 5 sampai 6 jam lamanya.

Berkunjung ke Mentawai juga berarti berpetualangan untuk merasakan kehidupan masyarakatnya secara langsung. Homestay hanya tersedia di daerah tertentu sedangkan di sebagian besar Kepulauan Mentawai, pilihan menginap hanyalah di rumah penduduk dengan tidur di lantai. Para wisatawan sebaiknya membawa makanan sendiri dan membawa hadiah untuk pemilik rumah sebagai bayaran menginap.

Untuk berpetualang di Kepulauan Mentawai, pemandu wisata sangat dianjurkan. Hal ini bertujuan untuk memastikan keamanan selama berpetualang. Selain itu, kondisi laut dan cuaca yang terkadang berbahaya juga harus diperhatikan oleh para wisatawan demi keselamatan selama kunjungan.